Wahay Lelaki!!! Belajarlah sedikit dari filosofi burung parkit

Sepanjang setengah hari tadi, gw ngedit buku yang  judulnya "Parkit" tulisannya Ir. Wahyu Widodo. Di sela kegiatan mengedit, kira-kira memasuki 2 bab awal, gw sempet dibuat konsen untuk ngebaca lebih dalam mengenai editan gw, padahal mah biasanya atau keseringannya, dieditan awal gw maen "hajar aja" tanpa pusing-pusing memperdalam materi editan. Cuma kali ini, gw tertarik untuk membuat sedikit resume mengenai perilaku burung parkit yang menurut gw menarik untuk diulas.

Gbrprkit

Parkit  (Melopsittacus undulatus) yang biasa hidup berkoloni ini adalah termasuk jenis burung yang setia. Dulunya,  gw pikir cuma burung merpati (selain Buaya Lho!!!) aja binatang yang setia sama pasangannya. Tetapi ternyata parkit juga, Fakta yang dikatakan dalam buku itu kurang lebih begini.<

"”Parkit jantan dikenal sangat setia dengan pasangannya dan takaran kesetiaannya itu boleh dikatakan long lasting dan terjadi dalam periode cukup panjang. Salah satu perilaku setia parkit jantan bisa dilihat dari kesabarannya menunggui parkit betina yang sedang aktif bertelur di dalam sangkarnya dari luar sangkar, bahkan dia selalu menyenandungkan siulannya laksana menghibur sang betina yang sedang berjuang menelurkan generasi barunya. Selama periode bertelur, parkit betina akan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sangkar. Selama waktu itu pula sang jantan menemaninya. Kemudian pada saat betina mengerami telurnya, parkit jantan sesekali pergi meninggalkan sangkar. Namun, bukan berarti dia membebaskan diri dari tanggung jawabnya. Parkit jantan selalu tetap memperhatikan pasangannya dan calon anaknya dengan cara mengirim makanan dari luar kotak saran untuk betinanya. O iya, parkit jantan ternyata benar-benar jantan, hal ini terbukti dari keberaniannya menghalau parkit lain yang berani-berani mengusik pasangannya. Setelah anaknya berhasil dierami, parkit jantan bersama betinanya bekerjasama dalam mengurus anaknya, misalnya dengan cara menyuapi makan anak-anaknya. Mereka masih terus menyuapi hingga anaknya berumur kurang lebih 40 hari. Pada umur-umur segitu, anak-anak parkit sudah besar dan perlahan mulai meninggalkan kotak sarangnya untuk belajar terbang. Setelah dirasa yakin anak-anaknya matang dan dewasa, mereka pun kembali melanjutkan percintaan mereka untuk kembali menelurkan generasi-generasi mereka yang kelak akan mengikuti sifat mereka yang setia, penyayang, pelingdung, dan tipikal orang tua yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.. "

It’s so sweet isn’t it???….. hmmmm….mungkin bila hal-hal seperti di atas bisa diterapkan di kehidupan manusia yang menjalankan kehidupan berumah tangga, bukan mustahil mereka setidaknya bisa mengecap keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. (amiinnn insya 4JJI..). Dan andai ada manusia (khususnya pejantan eh kaum lelaki) yang tidak bisa berperilaku seperti parkit jantan, terutama dalam hal kesetiaan dan rasa tanggung jawab (kayanya banyak dwehhh…!!!). Coba deh untuk belajar sedikiiiiiiitttt aja dari filosofi di atas, biar gak maluuu-maluin, moso’ kalah sama burung…. heheheehheee…

-

Jazt 4 d Inzpiration-

3 Responses to “Wahay Lelaki!!! Belajarlah sedikit dari filosofi burung parkit”

  1. surip Says:

    anis gombal and jayus….

  2. ciproet Says:

    hahaha…setuju!! hidup burung parkit!

  3. budung... Says:

    loe mah bodoh… klo kita belajar seperti burung parkit, mau berapa jumlah manusia di dunia ini… habis ngelahirin bikin anak lagi… HIDUP BUAYA…

Leave a Reply